7 Langkah Cara Alami Untuk Mendorong dan Melatih Balita Agar Bisa Berbicara

Setiap orang tua pasti berharap dapat mendengar anak mereka mengucapkan kata pertamanya. Biasanya kata yang diucapkan pertama kali oleh anak-anak adalah “mama”, “papa” atau semisalnya, karena biasanya memang kosakata itulah yang sering didengarkan oleh anak sejak bayi.

Tetapi bagaimana jika kata pertama itu tidak kunjung terucap? Atau bagaimana jika balita tidak bisa memperkaya kosakata? Sebagai orangtua, terutama seorang ibu pasti akan merasakan khawatir jika si Kecil yang tercinta mengalami keterlambatan dalam berbicara.

Untuk melatih kemampuan bicara pada anak, peranan orang tua dan keluarga sangatlah penting. Berikut temonggo tuliskan beberapa tips yang cocok bagi para orang tua untuk membantu menciptakan peluang agar balita bisa mulai berbicara dan berkomunikasi di rumah mereka.

1. Ceritakan aktivitas yang kita lakukan

© Pavel Kraus / Pixabay

Lakukan hal ini sedini mungkin, terutama untuk seorang ibu yang paling sering berinteraksi dengan sang anak. Jika memandikan anak, ucapkanlah langkah-langkah dalam rutinitas tersebut. Misal; “Yuk diisi dulu bak mandinya. Habis itu kita basahi rambutnya dulu ya biar seger, disampo biar wangi, selanjutnya hidungnya dibersihin dan telinga digosok-gosok, pyuk pyuk pyuk…..”. Atau pakai kata-kata yang sesuai dengan selera. Kalau para orang tua di Jawa, dahulu saat memandikan bayi mereka biasanya sambil menyanyikan; Siram bayem, gelis gedhe, ilang larane, gari seger warase,  adoh penyakite, pinter sekolahe, pinter ngajine, digemateni gurune, diguyubi kancane…. Itu diucapkan bukan tanpa maksut dan tujuan, melainkan salah satu cara untuk berkomunikasi dengan anak sejak dini.

Setelah anak sedikit lebih besar, ceritakan apa yang mereka lakukan. Misal; Wah adek dapet bola, coba lempar ke sini, Iyak bagusss, ambil lagi dek bolanya, coba lempar lagi kesana, dan lainnya. Bayangkan diri kita sebagai penyiar olahraga yang menyiarkan permainan sambil bermain dengan apa yang sedang terjadi. Bayi mulai memahami bahasa jauh sebelum mereka mulai berbicara dan itulah sebabnya penting untuk melakukan dialog berkelanjutan dengan bayi, sehingga mereka dapat mulai memahami suara dan kata-kata.

2. Jangan mendahului keinginan anak

© tung25 / Pixabay

Sebagai orang tua, kita pasti mengenal anak dengan baik, pasti tahu kebiasaan dan apa yang anak inginkan oleh anak, bahkan sebelum mereka memberitahukannya. Misalnya, jika anak terbiasa minum secangkir susu setelah tidur siang, ibu pasti akan terbiasa menyiapkan dan menyediakan susu setelah tidur siang di samping anak. Jangan lakukan hal ini! Sebagai gantinya cobalah menunggu dan lihat apakah anak mencoba untuk mengkomunikasikan bahwa dia menginginkan susu dengan sendiri. Mintalah dia untuk meminta, salah satunya dengan menunjuk, atau mengatakan “susu”. Ini adalah salah satu cara melatih anak agar cepat bisa berbicara.

3. Tawarkan sebuah pilihan dan tunggu reaksinya

© Tyke Jones / Pixabay

Balita suka memilih. Ini memberikan kesempatan kepada anak untuk berkomunikasi. Misalnya, kita bisa mengatakan “Adek pengin jus atau susu?”. Kemudian tunggu 5-10 detik agar dijawab. Waktu 10 detik akan nampak terasa lama bagi orang tua, tetapi percayalah! anak akan berkomunikasi dengan menunjuk atau mengucapkan kata. Kita bahkan bisa membuat anak meniru bunyi awal dari sebuah kalimat, jika belum siap untuk mengucapkan seluruh kata. Jika anak tahu kosakata, tetapi tidak mengucapkannya, coba minta anak untuk mengatakan kalimat awalnya saja, “Adek pengin…” dan kemudian tunggu beberapa detik sebelum mengucapkan kata “jus” atau “susu” sebagai pilihannya.

4. Permainan “Lanjutkan kata”

© Pixabay

Cobalah untuk menyanyikan sebuah lagu, kasih jeda di beberapa bagian dan lihat apakah anak akan mengisi bagian yang kosong. Misalnya nyanyi, “Balonku ada … (jeda) ….” Bisa juga dengan melakukan hal yang menyenangkan atau rutinitas akrab. Misalnya, ketika membalap mobil mainan, coba katakan “Siap, sedia, satu, dua … (jeda) … mulai!” Kasih jeda pada kata “tiga” sebelum mengatakan “mulai” dan lihat apakah anak akan mengatakannya sendiri.

5. Bertingkah bodoh atau seolah-olah tidak tahu

© Daniela Dimitrova / Pixabay

Ketika anak menunjuk ke objek yang diinginkan, cobalah pura-pura tidak tahu. Misalnya, ketika si kecil menunjuk ke minuman yang ada di meja dan kita tahu dia ingin minum, katakan, “Adek pengin apa?” (Jeda) “Apel?” (Jeda) “Sendok?” (Jeda) ” Minuman? “…” Oh, minum! “. Dengan cara ini, anak-anak akan belajar bahwa ketika mereka mengucapkan apa yang mereka inginkan, mereka akan mendapatkannya lebih cepat. Tapi tidak semua anak bisa memulai dengan meminta dan menunjuk sesuatu yang mereka inginkan, bahkan ada yang harus ditanya dulu sama Ibu. Jika anak tidak memulai untuk meminta atau menunjuk sesuatu, cobalah kita yang mengawali dengan mengatakan, “Adek pengin apa?” Atau “Adek nyari apa?” Lalu sebutkan beberapa benda seperti di atas tadi sebelum memberikan yang diinginkan oleh anak. Saat berpakaian juga merupakan waktu yang tepat untuk bertingkah seolah olah tidak tahu. Cobalah seolah-olah lupa memakai baju atau memakai kaus kaki di tangan, dan lihat apakah anak akan mengoreksi atau tidak.

6. Mengatur dan menguasai lingkungan

© pixabay

Atur lingkungan sedemikian rupa sehingga anak harus meminta bantuan. Misalnya, letakkan mainan favorit dalam jarak pandang tetapi di luar jangkauan (di rak tinggi) sehingga mereka harus meminta tolong. Hal lain yang bisa dicoba adalah meletakkan makanan atau mainan dalam wadah plastik atau toples, dan kemudian memberikannya kepada anak. Tunggu dan lihat apakah mereka mencoba untuk meminta bantuan. Jika mereka hanya bengong dan melihat, tanggapi dengan mengatakan, “Oh, adek butuh bantuan?. Beri mereka makanan yang belum dibuka dan lihat apakah mereka mencoba untuk berkomunikasi bahwa mereka perlu bantuan untuk membukanya.

7. Latih dengan ucapan sempurna

© Chuck Underwood / Pixabay

Gunakan ucapan sederhana yang jelas selama bermain atau rutinitas dengan anak. Saat anak-anak pertama kali berlatih bicara, kata-kata yang keluar dari mulut anak tidak sempurna. Misal “mimik cucu” (mimik susu) atau “loti” (roti). Orang tua tidak boleh mengikuti dan menirukan ucapan anak “mimik cucu” tapi ucapkanlah “mimik susu” dan “roti” dengan jelas. Saat orang tua menirukan ucapan kurang sempuna dari anak-anak, mereka tidak akan terangsang untuk memperbaiki ucapan kata tersebut. Tetapi cobalah rangsang ia dengan mengucapkan kata sempurna agar anak bisa lebih cepat mengatakan sesuatu dengan sempurna dan tidak cedal.

Semoga tips-tips ini memberikan beberapa ide kepada para orang tua tentang cara menciptakan peluang komunikasi dan membuat anak-anak balita berlatih berbicara dengan benar.

Bagaimana pendapatmu

28 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Kasih komen di sini gan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Loading…

Comments

comments

20 Inspirasi Menghias Kebun Sayuran dan Taman Bunga Menggunakan Botol Plastik

7 Resep Istimewa Membuat Masker Menggunakan Lidah Buaya Untuk Kulit Wajah Yang Cerah dan Cantik