SukaSuka CakepCakep JelekJelek

Hindari Mengatakan 7 Kalimat Berikut Ini Karena Dapat Menjatuhkan Mental Anak

Pepatah bilang, “Lidah lebih tajam daripada pisau.’ Tidak salah. Sebab hanya dengan perkataan saja, Kamu bisa membuat orang lain terluka, walau tidak berdarah.

Lisan yang tidak dijaga bisa menyebabkan orang lain marah, tersinggung, dan bahkan sedih. Itulah mengapa kita selalu diminta untuk menjaga perkataan, baik itu kepada orang tua, tetangga, rekan kerja, teman baik, terutama anak.

Mereka yang sedang dalam fase ‘meraba-raba dunia’ seyogyanya masih rentan terhadap berbagai rangsangan yang mereka terima, sehingga perkataan toxic dari orang tua akan sangat bisa menjatuhkan mental seorang anak.

Hal ini bisa mengganggu psikologi anak dan punya efek buruk ketika mereka dewasa nanti. Ada beberapa kalimat yang perlu dihindari orang tua kepada anak. Apa saja itu? Simak ulasan berikut.

1. “Masa Ngerjain Soal Segampang Ini Aja Nggak Bisa”

mengerjakan soal

Kalimat di atas mengecilkan kemampuan anak. Anak akan menganggap diri mereka bodoh dan tidak mampu. Bukannya termotivasi, mereka malah jadi tidak percaya diri.

Bila ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin mereka akan jadi pribadi yang punya self-esteem rendah, dan curang saat ujian karena tidak percaya diri sendiri.

Daripada berkata demikian, cobalah diganti dengan: “Kamu pasti bisa ngerjain ini. Lain kali lebih teliti, ya.”

2. ”Lihat Tuh Temen-Temen Kamu. Semuanya Pinter dan Rajin-Rajin”

anak menulis

Ujaran membanding-bandingkan rasanya cukup familiar ya. Sudah bagai kalimat favoritnya para orang tua. Pertama, mungkin karena orang tua tidak suka jika anaknya ‘kalah’ dari anak orang lain. Kedua, mungkin niatnya baik supaya si anak ikutan rajin belajar.

Tapi oh tapi Baginda. Setiap anak punya bakat dan kemampuannya masing-masing. Dan anak mana sih yang suka dibanding-bandingkan? Bukannya semangat, malah kesal jadinya.

Sebaiknya hilangkan saja nada membanding-bandingkannya itu, diganti menjadi: “Nak, yuk belajarnya dirajinkan lagi, nanti biar nilainya bagus.”

3. ”Jangan Cengeng Dong Jadi Anak”

bullying

Kata-kata ini kurang bagus diucapkan karena dapat menekan emosi anak. Emosi mereka sedang berkembang sehingga bila ditekan akan berdampak kurang bagus saat mereka dewasa kelak.

Sebaiknya cobalah katakan: “Ada apa Sayang? Kenapa nangis?”

Dengan bertanya secara lembut, si anak akan lebih terbuka menceritakan masalah mereka. Orang tua pun jadi bisa memberikan solusi kepasa sang anak.

4. ”Kan Udah Dibilangin, Jangan Gitu. Masih Aja Dilakuin! Bandel Banget Sih!”

kids 4297372 640

Anak terkadang bisa terlalu aktif, kesana-kemari sulit dihentikan. Berlari-lari, meyentuh barang, atau bahkan membuang-buangnya. Ketika demikian, anak sebenarnya sedang dalam proses mengeksplorasi hal-hal baru.

Kata-kata toxic seperti ‘anak nakal’ bisa terekam dalam alam bawah sadarnya, dan membuat mereka jadi melabeli diri sendiri, ‘aku adalah anak nakal’. Untuk menghindari hal tersebut, sebaiknya katakan saja: “Hati-hati, ya, kalau main.”

5. ”Gitu Aja Nggak Bisa, Sini Biar Mama Aja”

Kalimat di atas bisa membuat anak jadi manja dan kurang percaya diri, sehingga lebih baik ubah dengan ujaran motivasi seperti: “Yuk, Kamu bisa kok.”

6. ”Mama Kecewa Sama Kamu”

angry 2878934 640

Jika anak melakukan sesuatu yang kurang baik, orang tua tentu saja boleh marah. Namun kita juga perlu memilih perkatan yang tepat untuk dilontarkan kepada anak. Kalimat di atas tampaknya bukan pilihan tepat.

Anak yang lugu seringkali tidak sadar bila mereka melakukan kesalahan, sehingga saat mereka sadar bahwa mereka telah mengecewakan orang tua, akan muncul perasan gagal dalam diri mereka.

Mereka akan merasa, ‘aku bukan anak baik.’ Dan hal tersebut bisa membekas hingga si anak dewasa.

Daripada berkata demikian, cobalah diubah dengan: “Mama kurang suka kalau Kamu kayak gitu. Tolong jangan diulangi lagi ya.”

7. “Kamu Itu Masih Kecil, Kalau Mama Udah Besar, Dibilangin Kok Ngeyel”

cap 2923682 640

Ini merupakan logika yang keliru. Perkatan di atas bisa mengaburkan konsep murni dari kebenaran itu sendiri. Si anak akan menyadari perkataan mereka salah cuma gara-gara mereka masih ‘kecil.’

Mereka akan menganggap bahwa orang dewasa selalu benar dan mereka tidak punya hak untuk mengatakan apa yang mereka anggap benar.

Hal ini akan berdampak buruk saat mereka dewasa nanti, di mana mereka jadi kurang percaya diri saat ingin mengutarakan opini pribadi.

Sebaiknya ubahlah dengan perkataan: “Kalau menurut Kamu gimana? Yuk diskusi.”

Dengan begini, orang tua jadi bisa mengajari anak untuk berpikir kritis sejak dini.

Pentingnya Positive Talk Kepada Anak

human 763156 640

Ucapan-ucapan di atas adalah beberapa contoh kalimat toxic yang bisa menjatuhkan mental anak. Orang tua perlu membiasakan diri untuk bertutur positif supaya anak merasa berharga, lebih percaya diri, dan punya mental yang sehat kini dan seterusnya.

Dengan memberikan ungkapan yang positif, mereka jadi belajar bahwa melakukan kesalahan adalah hal yang wajar.

Mereka menjadi paham bahwa mereka punya kesempatan untuk memperbaiki kesalahan karena sedang dalam proses belajar.

Maka dari itu, mari jauhi kalimat-kalimat yang bisa menjatuhkan mental anak, diganti dengan afirmasi positif yang bisa mengembangkan karakter anak.

Jika ingin tahu lebih banyak mengenai topik parenting, kunjungi website Temonggo yang dijamin selalu menyajikan ulasan bermanfaat untuk kalian. Salam dari penulis.

Loading…

0

Pendapat Anda?