CuteCute LOLLOL LoveLove OMGOMG SedihSedih

Tak Perlu Berteriak, Lakukan 7 Tips Ini Agar Anak Memperhatikan Perkataanmu

Tidak mudah memang agar permintaan atau larangan dari orangtua didengarkan anak-anak. Terlebih lagi, anak-anak bahkan lebih keras kepala dibandingkan orangtuanya. Kebanyakan orang tua sudah faham bahwa teriakan tidak akan bisa mengubah keadaan menjadi lebih baik, tapi entah kenapa hal itu masih terus diulang kembali.

Mungkin banyak yang bertanya-tanya, lalu bagaimana cara mendidik atau mendapatkan perhatian anak tanpa berteriak? Pakai teriak keras dan marah saja anak masih bandel, kata-kata orang tua gak diperhatiin, gimana kalau tanpa teriak? dan pertanyaan-pertanyaan semisalnya. Kalau orang jawa bilang “Omongane wong tuwo rak tau digugu”.

Biasanya orang tua berteriak karena frustasi dengan tingkah si kecil, kata-kata sudah tidak digubris karena keasikan bermain. Ok, ikuti tips-tips yang disadur dari Beauty in the Mess berikut ini, agar anak-anak mendengarkan supaya tidak perlu berteriak dan membentak saat menasehati.

1. Utamakan tindakan daripada teriakan

Photo by 3643825 on Pixabay
Photo by 3643825 on Pixabay

Bukan berarti saat anak berbuat salah langsung ditindak dengan hukuman, tapi saat anak berbuat sesuatu yang tidak kita inginkan, ambilah tindakan yang tepat sebelum membentak. Misal anak lari-lari dan kita khawatir kalau nanti jatuh, alih-alih berteriak sambil berkata “jangan lari-lari” dengan nada tinggi, cobalah pegang dia dan sentuh dengan lembut agar dia berhenti kemudian baru dinasehati agar tidak lari-lari lagi.

2. Fokus kepada apa yg anak-anak ingin lakukan, jangan yang Anda ingin mereka berhenti lakukan

Photo by Hai Nguyen Tien on Pixabay
Photo by Hai Nguyen Tien on Pixabay

Saat mereka melakukan sesuatu, mereka hanya ingin bermain. Melarang mereka bermain saat sedang asik-asiknya tidak akan digubris sama sekali. Ini terutama berlaku pada anak kecil. Ketika Anda mengatakan “jangan main di panasan”, gambaran di kepala mereka justru main di tempat yang panas. Jika Anda mengatakan “mainnya di bawah pohon aja ya”, gambaran di kepala mereka menjadi main di bawah pohon yang rindang.

3. Puji, pujian, pujian!

Photo by Iatya Prunkova on Pixabay
Photo by Iatya Prunkova on Pixabay

Sedikit pujian akan sangat berarti. Ketika melihat bahwa anak-anak berbuat salah, pujilah dia meskipun itu terlalu mengada-ada. Misal, jika anak berteriak dengan keras dan sedikit membentak, katakan padanya “Wow adek teriakannya kenceng banget, besok gedhe pengin jadi pemimpin upacara ya!, tapi kalau sama orang tua teriak gitu kayaknya gak sopan deh…” Barulah setelah dipuji, anak diberi pengertian, itu lebih baik daripada “jangan berteriak, gak sopan tahu!”. Jangan lupa, usahakan beri sentuhan saat memberi nasihat.

4. Tetapkan batasan, dan pastikan mereka paham

Photo by StockSnap on Pixabay
Photo by StockSnap on Pixabay

Jika Anda mengizinkan anak main gadget selama 30 menit, atur timer selama 30 menit dan bicarakan itu dengan anak-anak, pahamkan dia kalau timer sudah berbunyi berarti waktu bermain telah habis. Kalau anak sudah paham dan terbiasa melakukan hal tersebut, tanpa perlu berteriak, mereka akan mengikuti peraturan yang ada.

5. Hukuman dan hadiah

Photo by StockSnap on Pixabay
Photo by StockSnap on Pixabay

Buatlah peraturan sederhana untuk anak di dalam rumah, bikin bagan atau grafik. Terangkan pada mereka aturan-aturan tersebut. Pahamkan mereka, kalau tidak ada pelanggaran dalam sehari atau seminggu, anak-anak akan mendapatkan hadiah. Tapi kalau ada pelanggaran, akan dihukum. Hukumannyapun harus mendidik, bukan hukuman seperti orang dewasa, misal mereka akan membantu ibu mengepel lantai ruang tamu atau yang lainnya.

6. Letakkan ponselmu

Photo by Polski on Pixabay
Photo by Polski on Pixabay

Seriusss… Taruh ponselmu, saat ayah sibuk dengan laptopnya untuk ngecek email, dan ibu asik dengan facebook di smartphonenya, anak merasa seolah-olah tidak diperhatikan. Kalau sudah seperti ini, biasanya anak-anak mencari perhatian dengan hal-hal yang menjengkelkan, tak jarang juga membuat orang tua sedikit emosi.

7. Menawarkan pilihan daripada pertanyaan

Photo by MoteOo on Pixabay
Photo by MoteOo on Pixabay

Satu tip terakhir, menawarkan opsi daripada mengajukan pertanyaan. Alih-alih mengatakan, “Ayo bersihin mainannya, taruh di tempat semula. Harus ibu katakan berapa kali lagi supaya bisa tertib?”, Coba ucapkan “Sayang, itu mainannya mau diberesin sendiri atau ibu yg mberesin kan udah gedhe?”. Daripada mengatakan “Malam ini lauk tempe ya dek?”, Katakan “Adek suka tempe apa tahu?”. Memberikan opsi yang Anda sukai adalah cara terbaik untuk berkompromi sambil tetap mendapatkan respons sesuai yang Anda inginkan.

Photo by Sasin Tipchai on Pixabay
Photo by Sasin Tipchai on Pixabay

Satu hal yang perlu diingat buat para orang tua; jangan cemaskan hal-hal kecil. Memang Seolah-olah merawat anak itu adalah suatu hal yang gila, tetapi yakinlah, anak-anak tumbuh begitu cepat! Jika benar-benar ingin tahu cara membuat anak-anak mendengarkan Anda, cobalah selami dunia anak, berfikirlah dengan jalan fikiran mereka. Ikutlah bermain dan bersenda gurau seolah-olah diri Anda masih menjadi seorang anak, nikmati setiap menitnya, dan perhatikan perubahannya.

Perhatikan juga 11 kesalahan orang tua dalam mendidik dan mengasuh anak, agar tidak salah langkah dalam memilih tindakan saat anak berbuat kesalahan.

Bagaimana pendapatmu

30 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

11 Makanan & Minuman Terbaik Untuk Dikonsumsi Saat Sakit

30 Ide Dekorasi Meja dan Tempat Kerja di Dalam Rumah